PROLOG
Pada suatu
hari, hiduplah seorang martir bernama Valentinus yang tinggal di sebuah
kerajaan yang dipimpin oleh kaisar Claudius.
Kaisar
Claudius sangat menentang adanya pernikahan. Baginya, pernikahan hanya akan
menghambat ambisinya membuat pasukan militer yang sangat besar. Banyak pria
menolak ikut peperangan karena lebih memilih keluarganya.
Ambisi
Claudius itu sangat ditentang oleh Valentinus. Tanpa sepengetahuan Claudius,
Valentinus memberi pemberkatan bagi pasangan yang jatuh cinta dan ingin
menikah. Pada suatu malam, disaat pemberkatan pernikahan, Valentinus tertangkap
basah.
“ Wahai
kalian pasangan yang berbahagia, dengan ini aku nyatakan kalian sebagai suami
dan isteri,-”
BRUAKKKK!!
“ Tangkap
martir itu!!”
“ Argh!!!....”
“ Argh!!!....”
Ia pun
dijebloskan kedalam penjara dan divonis hukuman mati. Di dalam penjara, Ia
berteman dengan seorang perempuan tunanetra, putri seorang penjaga penjara yang
bernama Asterius.
“ A-ano,
si-silahkan dimakan,” sahut gadis itu.
“ Siapakah gerangan, wahai gadis jelita?” tanyanya kepada gadis itu.
“ Asterius, namaku Asterius. Anda?”
“ Saya Valentinus, seorang martir.”
“ Siapakah gerangan, wahai gadis jelita?” tanyanya kepada gadis itu.
“ Asterius, namaku Asterius. Anda?”
“ Saya Valentinus, seorang martir.”
Setiap hari,
Asterius selalu membawakan makanan untuk Valentinus dan menyampaikan
pesan-pesanya kepada teman-temannya diluar penjara.
Hal itu
berlangsung hingga setahun lamanya. Asterius pun sembuh dari kebutaannya dan
dapat melihat wajah Valentinus untuk yang pertama kalinya.
“
Valentinus. . . .” sahut gadis itu sambil mengusap matanya.
“ Inilah aku,” sahut Valentinus kepada Asterius.
“ Inilah aku,” sahut Valentinus kepada Asterius.
Sore hari,
tanggal 14 Februari, sebelum di eksekusi, Valentinus memberikan sepucuk surat
cinta untuk
Asterius yang dititipkan kepada penjaga.
“ Hey,
Asterius, ada surat cinta untukmu,” sahut penjaga itu.
“ Dari siapakah?”
“ Lihat saja sendiri,”
“ Dari siapakah?”
“ Lihat saja sendiri,”
Ia pun
membaca surat tersebut, tertulis : “ Dengan cinta dari Valentinusmu”.
Valentinus
dieksekusi di luar gerbang flaminian, tahun 269 Masehi. Semua melihat
detik-detik terakhir kematian Valentinus, termasuk Asterius.
“ Permisi,
biarkan aku melihatnya,” sahut Asterius sambil menyelinap kerumunan orang.
“ Ah, Asterius . . . .” lirih Valentinus dengan suara pelan.
“ Valentinus. . . .” mata Asterius mulai berkaca-kaca.
“ Ah, Asterius . . . .” lirih Valentinus dengan suara pelan.
“ Valentinus. . . .” mata Asterius mulai berkaca-kaca.
“ Bersiaplah,
martir!” sahut penjaga itu sambil menyiapkan pedangnya.
“ Asterius.
. . .”
“ Valentinus . . . .”
“ Aku mencintaimu, Valentinus. . .” sahut Asterius dengan suara lirih menahan tangis.
“ Aku ju--”
“ Valentinus . . . .”
“ Aku mencintaimu, Valentinus. . .” sahut Asterius dengan suara lirih menahan tangis.
“ Aku ju--”
DZINGGGGG….. SCRASSSSS….
“
Valentinuss!!!!”
Demikianlah.
Setiap tanggal 14 Februari diperingati sebagai hari kasih sayang untuk
memperingati Santo Valentinus, seorang martir dan pejuang cinta.
-Prolog: End –
Salam " Author"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar