BAGIAN DUA
- Dimulai Festival
Sekolah dan Datanglah Black Shadow -
Tanggal 14
Februari. Festival St. Valentine pun dimulai. Stand-stand pameran, games-games
unik, makanan enak, semua sudah siap. Opera pun akan dimulai jam 11.30 siang
nanti. Saat ini.
“ Uwaa.. Aku
gugup,” sahut Alicia.
“ Tenanglah, anggap saja pementasan biasa,” sahut Shiki.
“ Itu hanya bisa dilakukan olehmu, aku tidak bisa,”“ He?”
“ Tenanglah, anggap saja pementasan biasa,” sahut Shiki.
“ Itu hanya bisa dilakukan olehmu, aku tidak bisa,”“ He?”
Sedangkan
itu di ruang club UIPMC.
“
Kurokawa-kun! Bawa ini kedepan,” sahut Misha sambil menitipkan kue-kue yang
akan dijual nanti.
Ya, kali ini
UIPMC Club! membuka stand cake café. Cool team menggunakan baju maid ber-jas
hitam putih, dengan celemek menutupi pinggang. Sedangkan Cute team memakai baju
maid-loli dengan celemek menutupi bagian atas.
KRINGGGGG!!!
“ Test,
waktu tepat pukul 7.00 pagi. Festival resmi… DIBUKA!! Have a nice day alls.”
Mulailah
semua stand menawarkan barang yang dijualnya.
“ Silahkan
mampir ke stand pecinta alam,”
“ Mau
merasakan ketegangan yang hebat? Silahkan berkunjung ke rumah hantu,”
“ Silahkan
tehnya, silahkan mampir ke klub minum teh,”
.
.
“ Kita juga
jangan kalah, ayo!!!” seru Karen.
“ Silahkan
mampir ke cake café UIPMC,” seru Misha.
“ Silahkan, ingin pesan apa?” tanya Steve dengan senyum bak idola.
“ KYAAAA~” jerit siswi tersebut.
“ KYAAAA~” jerit siswi tersebut.
“ Silahkan
duduk di sebelah sini,” sahut Linguene dengan kedipan rayuannya.
“ KYAAAA… Linguene-kun!!”
“ KYAAAA… Linguene-kun!!”
“ Pesan
strawberry cake-nya,” sahut seorang siswi dari ujung tempat duduk.
“ Silahkan nona, pesanan anda sudah siap,” sahut Danny dengan tatapan pesonanya.
“ Uwahhhh…”
“ Selamat menikmati,” senyum Danny.
“ KYAAA~ Cowok cantikkk!!” seru siswinya.
“ Silahkan nona, pesanan anda sudah siap,” sahut Danny dengan tatapan pesonanya.
“ Uwahhhh…”
“ Selamat menikmati,” senyum Danny.
“ KYAAA~ Cowok cantikkk!!” seru siswinya.
“ Silahkan
mampir ke café kami,” sahut si kembar Kashiwabara di depan café.
“ Uwooooo… Cewek maniiiissss….”
“ Uwooooo… Cewek maniiiissss….”
“ Uwaa!!
Sumimasen!! Selamat datang~” sambut Karen.
“ Ungg.. ma-mahal ya kak?” tanya adik kelas yang masih duduk di bangku elementary school.
“ Eh? Tenang saja! Untuk kalian setengah harga saja ya,” sambut Karen dengan ramah dan cheerful.
“ Benarkahhh??”
“ Tentu saja, silahkan adik manis,”
“ Terimakasih kak,” senyum anak-anak kecil itu.
“ Ehehehe,”
“ Ungg.. ma-mahal ya kak?” tanya adik kelas yang masih duduk di bangku elementary school.
“ Eh? Tenang saja! Untuk kalian setengah harga saja ya,” sambut Karen dengan ramah dan cheerful.
“ Benarkahhh??”
“ Tentu saja, silahkan adik manis,”
“ Terimakasih kak,” senyum anak-anak kecil itu.
“ Ehehehe,”
“
Karen-chan, bantu bagian sini!” teriak Key dari ujung dapur.
“ Oke,”
“ Oke,”
“ Ini
pesanan anda,” Harmony sambil memberikan pesanan kepada pelanggan.
“ Uwahhh.. cantiknyaa..” sahut siswi itu dengan tatapan kagum.
“ Uwahhh.. cantiknyaa..” sahut siswi itu dengan tatapan kagum.
“ Key,
tolong antar pesanan ini ke bangku no 7!” sahut George dari dapur.
“ Ok,”
“ Ok,”
“ Ini
pesanan anda, nona manis, selamat menikmati,” sahut Key dengan senyuman
pengikatnya.
“ Uwaaa… Terimakasih,” balasnya.
“ Uwaaa… Terimakasih,” balasnya.
“ Thady,
antarkan pesanan itu ke bangku no 17!”
“ Ha-haik!”
“ Ha-haik!”
“ Silahkan
nona,”
“ Uwahhhh.. Ku-kurokawa-kun?!”
“ Selamat menikmati hidangannya,” senyum Thady tanpa ragu.
“ Uwahhhh.. Ku-kurokawa-kun?!”
“ Selamat menikmati hidangannya,” senyum Thady tanpa ragu.
“ Eh, mampir
yuk ke cake café UIPMC club!” sahut siswi tersebut.
“ Emang kenapa?”
“ Disana banyak cowok gantengnya lho,”
“ Emang kenapa?”
“ Disana banyak cowok gantengnya lho,”
“ Selamat
datang,” sambut Thady.
“ Te-terimakasih,” kagum siswi itu.
“ Te-terimakasih,” kagum siswi itu.
Cake café
UIPMC sangat ramai di kunjungi pengunjung. Semua sangat sibuk dengan kerjaannya
masing-masing. George sibuk dengan kue, Key sibuk dengan bagian pembayaran, dan
yang lain sibuk melayani pelanggan.
Tidak terasa
sudah hampir jam 11 siang. Café juga sudah tidak terlalu padat.
“ Hey,
George, lu gak nonton opera-nya Alicia nanti?” tanya Steve yang sedang
istirahat.
“ Hmm.. Entahlah,” jawab George yang masih menghias kue.
“ Tenang saja, yang akan menjaga café ya gua,” sahut Thady sambil bergaya ala maid-sama.
“ . . . .” ‘gak yakin gue.’ pikir George dan Steve.
“ Hmm.. Entahlah,” jawab George yang masih menghias kue.
“ Tenang saja, yang akan menjaga café ya gua,” sahut Thady sambil bergaya ala maid-sama.
“ . . . .” ‘gak yakin gue.’ pikir George dan Steve.
“ Sudah,
pergi saja, aku yang akan membuat kuenya,” sahut Harmony.
“ Gue juga bakal bantu Harmony,” timpal Linguene.
“ Beneran nih?”
“ Yup,”
“ Ok, gua pergi dulu ya!”
“ Selamat bersenang-senang,”
“ Gue juga bakal bantu Harmony,” timpal Linguene.
“ Beneran nih?”
“ Yup,”
“ Ok, gua pergi dulu ya!”
“ Selamat bersenang-senang,”
George
segera ganti baju dan menuju gedung opera. Dilihatnya gedung sudah hampir ramai
di tempati pengunjung. Tetapi untunglah George mendapatkan tempat yang
strategis.
Opera pun
dimulai. Baginya Alicia sangat cantik di benaknya.
“ Oh,
pangeran,” seru Alicia.
Dia hanya
bisa berkhayal, ‘kenapa bukan gua saja yang jadi pangeranya,’ batinnya.
George hanya
bisa duduk terdiam melihat opera tersebut. Batin penuh penyesalan karena Ia
tidak dapat jujur pada Alicia, bahkan pada perasaannya sendiri.
“
Khikhikhi.. Wahai gadis yang cantik jelita, silahkan makan apel ini,” seru
penyirir.
“ Untukku? Anda baik sekali,”
“ Untukku? Anda baik sekali,”
Sampailah
pada adegan akhir, saat dimana sang pangeran mencium putri snow white. Perasaan
George bergejolak. Penuh dengan rasa kecemburuan. Baru pertama kali Ia
merasakan perasaan seperti ini. Tetapi apa daya? Ia tak bisa berbuat apa-apa.
Walaupun George tahu, ini semua hanya sandiwara saja, tetapi perasaannya tetap
tidak bisa tenang.
“ Putri Snow
White, oh tidak, bagaimana ini kurcaci?” tanya Shiki.
“ Cium dia pangeran! Cium dia. Hanya ciuman sejati yang dapat menyelamatkannya,”
“ . . . .” Shiki mulai mendekatkan wajahnya ke Alicia.
“ Cium dia pangeran! Cium dia. Hanya ciuman sejati yang dapat menyelamatkannya,”
“ . . . .” Shiki mulai mendekatkan wajahnya ke Alicia.
Muka George
merah padam menahan rasa cemburunya yang menggebu-gebu. Tiba-tiba saja.
BLITZZZ… BLIZZ.. PCRANGGGG!!!
“ Kyaa!!!”
Semua orang
panik akibat pecahnya lampu sorot diatas panggung. Di dalam benak George
‘Bagaimana Alicia?!’
Ia langsung
menuju panggung dan melihat Shiki terjatuh.
“ Kau tidak
apa Shiki?!” George sambil membantu Shiki berdiri.
“ A-alicia,” lirihnya pelan.
“ A-alicia,” lirihnya pelan.
George
melihat ke atas panggung. Seorang laki-laki berjubah hitam membawa Alicia yang
tidak sadar pergi.
“ Aku black
shadow. Ku bawa dia ya,” sahutnya.
Kemudian
hilang.
- To be continue-
Salam “
Author”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar