Rabu, 07 Agustus 2013

- Story 3: Black Shadow Case in St. Valentine's Day Part 2-

BAGIAN DUA

- Dimulai Festival Sekolah dan Datanglah Black Shadow -


Tanggal 14 Februari. Festival St. Valentine pun dimulai. Stand-stand pameran, games-games unik, makanan enak, semua sudah siap. Opera pun akan dimulai jam 11.30 siang nanti. Saat ini.

“ Uwaa.. Aku gugup,” sahut Alicia.
“ Tenanglah, anggap saja pementasan biasa,” sahut Shiki.
“ Itu hanya bisa dilakukan olehmu, aku tidak bisa,”
“ He?”

Sedangkan itu di ruang club UIPMC.

“ Kurokawa-kun! Bawa ini kedepan,” sahut Misha sambil menitipkan kue-kue yang akan dijual nanti.

Ya, kali ini UIPMC Club! membuka stand cake café. Cool team menggunakan baju maid ber-jas hitam putih, dengan celemek menutupi pinggang. Sedangkan Cute team memakai baju maid-loli dengan celemek menutupi bagian atas.


            KRINGGGGG!!!

“ Test, waktu tepat pukul 7.00 pagi. Festival resmi… DIBUKA!! Have a nice day alls.”


Mulailah semua stand menawarkan barang yang dijualnya.

“ Silahkan mampir ke stand pecinta alam,”

“ Mau merasakan ketegangan yang hebat? Silahkan berkunjung ke rumah hantu,”

“ Silahkan tehnya, silahkan mampir ke klub minum teh,”
.
.

“ Kita juga jangan kalah, ayo!!!” seru Karen.

“ Silahkan mampir ke cake café UIPMC,” seru Misha.

“ Silahkan, ingin pesan apa?” tanya Steve dengan senyum bak idola.
“ KYAAAA~” jerit siswi tersebut.
“ Silahkan duduk di sebelah sini,” sahut Linguene dengan kedipan rayuannya.
“ KYAAAA… Linguene-kun!!”

“ Pesan strawberry cake-nya,” sahut seorang siswi dari ujung tempat duduk.
“ Silahkan nona, pesanan anda sudah siap,” sahut Danny dengan tatapan pesonanya.
“ Uwahhhh…”
“ Selamat menikmati,” senyum Danny.
“ KYAAA~ Cowok cantikkk!!” seru siswinya.

“ Silahkan mampir ke café kami,” sahut si kembar Kashiwabara di depan café.
“ Uwooooo… Cewek maniiiissss….”

“ Uwaa!! Sumimasen!! Selamat datang~” sambut Karen.
“ Ungg.. ma-mahal ya kak?” tanya adik kelas yang masih duduk di bangku elementary school.
“ Eh? Tenang saja! Untuk kalian setengah harga saja ya,” sambut Karen dengan ramah dan cheerful.
“ Benarkahhh??”
“ Tentu saja, silahkan adik manis,”
“ Terimakasih kak,” senyum anak-anak kecil itu.
“ Ehehehe,”

“ Karen-chan, bantu bagian sini!” teriak Key dari ujung dapur.
“ Oke,”

“ Ini pesanan anda,” Harmony sambil memberikan pesanan kepada pelanggan.
“ Uwahhh.. cantiknyaa..” sahut siswi itu dengan tatapan kagum.

“ Key, tolong antar pesanan ini ke bangku no 7!” sahut George dari dapur.
“ Ok,”
“ Ini pesanan anda, nona manis, selamat menikmati,” sahut Key dengan senyuman pengikatnya.
“ Uwaaa… Terimakasih,” balasnya.

“ Thady, antarkan pesanan itu ke bangku no 17!”
“ Ha-haik!”

“ Silahkan nona,”
“ Uwahhhh.. Ku-kurokawa-kun?!”
“ Selamat menikmati hidangannya,” senyum Thady tanpa ragu.

“ Eh, mampir yuk ke cake café UIPMC club!” sahut siswi tersebut.
“ Emang kenapa?”
“ Disana banyak cowok gantengnya lho,”

“ Selamat datang,” sambut Thady.
“ Te-terimakasih,” kagum siswi itu.


Cake café UIPMC sangat ramai di kunjungi pengunjung. Semua sangat sibuk dengan kerjaannya masing-masing. George sibuk dengan kue, Key sibuk dengan bagian pembayaran, dan yang lain sibuk melayani pelanggan.


Tidak terasa sudah hampir jam 11 siang. Café juga sudah tidak terlalu padat.

“ Hey, George, lu gak nonton opera-nya Alicia nanti?” tanya Steve yang sedang istirahat.
“ Hmm.. Entahlah,” jawab George yang masih menghias kue.
“ Tenang saja, yang akan menjaga café ya gua,” sahut Thady sambil bergaya ala maid-sama.
“ . . . .” ‘gak yakin gue.’ pikir George dan Steve.
“ Sudah, pergi saja, aku yang akan membuat kuenya,” sahut Harmony.
“ Gue juga bakal bantu Harmony,” timpal Linguene.
“ Beneran nih?”
“ Yup,”
“ Ok, gua pergi dulu ya!”
“ Selamat bersenang-senang,”


George segera ganti baju dan menuju gedung opera. Dilihatnya gedung sudah hampir ramai di tempati pengunjung. Tetapi untunglah George mendapatkan tempat yang strategis.

Opera pun dimulai. Baginya Alicia sangat cantik di benaknya.

“ Oh, pangeran,” seru Alicia.


Dia hanya bisa berkhayal, ‘kenapa bukan gua saja yang jadi pangeranya,’ batinnya.

George hanya bisa duduk terdiam melihat opera tersebut. Batin penuh penyesalan karena Ia tidak dapat jujur pada Alicia, bahkan pada perasaannya sendiri.

“ Khikhikhi.. Wahai gadis yang cantik jelita, silahkan makan apel ini,” seru penyirir.
“ Untukku? Anda baik sekali,”


Sampailah pada adegan akhir, saat dimana sang pangeran mencium putri snow white. Perasaan George bergejolak. Penuh dengan rasa kecemburuan. Baru pertama kali Ia merasakan perasaan seperti ini. Tetapi apa daya? Ia tak bisa berbuat apa-apa. Walaupun George tahu, ini semua hanya sandiwara saja, tetapi perasaannya tetap tidak bisa tenang.

“ Putri Snow White, oh tidak, bagaimana ini kurcaci?” tanya Shiki.
“ Cium dia pangeran! Cium dia. Hanya ciuman sejati yang dapat menyelamatkannya,”
“ . . . .” Shiki mulai mendekatkan wajahnya ke Alicia.


Muka George merah padam menahan rasa cemburunya yang menggebu-gebu. Tiba-tiba saja.

            BLITZZZ… BLIZZ.. PCRANGGGG!!!

“ Kyaa!!!”

Semua orang panik akibat pecahnya lampu sorot diatas panggung. Di dalam benak George ‘Bagaimana Alicia?!’


Ia langsung menuju panggung dan melihat Shiki terjatuh.

“ Kau tidak apa Shiki?!” George sambil membantu Shiki berdiri.
“ A-alicia,” lirihnya pelan.

George melihat ke atas panggung. Seorang laki-laki berjubah hitam membawa Alicia yang tidak sadar pergi.

“ Aku black shadow. Ku bawa dia ya,” sahutnya.


Kemudian hilang.


- To be continue-



Salam “ Author”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar