Rabu, 14 Agustus 2013

- Story 3: Black Shadow Case in St. Valentine's Day Part 4 -

BAGIAN EMPAT

- Incaran yang Sesungguhnya! –


“ Thady ??”

“ Coba peragakan saat adegan terakhir sebelum Black Shadow datang,” sahut Thady.

“ Adegan. . .”
“ Saat pangeran mencium sang putri?” sahut Shiki.
“ . . . .Hegh!”
“ Sudah, ayo cepat lakukan.” bête Thady.
“ Gua dan dia?!” bentak George sambil melirik kearah Shiki.
“ . . . .”
‘ Matanya berbicara!’ batin George dan Shiki.
“ Ok.. Ok.. Kita lakukan,” sahut Shiki.


Mereka segera mempraktekan adegan trakhir sebelum bertemu dengan Black Shadow. George menjadi snow white dan Shiki menjadi pangerannya.

George memperagakan kematian snow white dan menghadap ke atas.

“ !!”
“ Tunggu sebentar!!”

“ Ada apa George?” heran Shiki.
“ Gua tahu, darimana Black Shadow itu muncul!” seru George.
“ Heh?!”

“ Ya, itu benar George. Itulah yang ingin ku beritahu padamu.” senyum Thady.
“ Dari atas?” lirik Shiki ke atas.
“ Ya,”

“ Ayo, kita coba ke atas,”


George, Thady, dan Shiki segera menuju ke atap. Menyelinap ke dalam ventilasi gedung opera. Dan menaiki tangga besi untuk memeriksa bagian lampu sorot.

“ Hmm.. Dari sini memang cuma Alicia yang dapat melihat Black Shadow,” sahut Shiki.
“ Memang Alicia tidak memejamkan mata?” tanya Thady.
“ Merem sih, tapi dia sempat membuka matanya,”
“ Jadi itu sebabnya Alicia yang diincar.” simpul George.
“ Cuma dia yang melihat Black Shadow,” timpal Shiki.
“ Ya, kemungkinan besar seperti itu,” sahut Thady.

“ Sepertinya Ia ingin kita berpikir seperti itu,” tambah Thady.
“ Apa maksudmu?”
“ Memang yang diculik adalah Alicia, tetapi sebenarnya, tujuan awalnya bukan Alicia,”
“ Aku masih tidak mengerti,” timpal Shiki.
“ Alicia diluar rencananya, yang sebenarnya diincar oleh Black Shadow adalah..” Thady menunjuk lurus kearah tempat duduk VIP. Tempat kepala sekolah duduk menonton opera.

“ APA?! Kepala Sekolah?!” kaget George.
“ Ya, itu sih baru analisisku, karena menurutku disini tempat yang pas untuk melihat gerak-gerik kepala sekolah,” sahut Thady.

“ Ta-tapi kan kepala sekolah masih lembur,” panik Shiki.
“ APA?!”
“ Ayo, kita ke ruang kepala sekolah!!”

.
.
.

Headmaster PoV


Di ruang kepala sekolah.

            CTIK.. CTIK.. TIK.. TIK..

            NGIIITTTTT…..

“ Siapa disana?”
“ Khukhukhu..”

.
.

Normal PoV


“ Pak Kepala?!!” George sambil mendobrak pintu.
“ Kalian?!” sahut Black Shadow.
“ Lepaskan, headmaster!” seru Shiki.
“ Huahahaha.. Dia kubawa dulu,” Black Shadow sambil membuka jendela lebar-lebar.
“ Huaaa!!!” teriak Pak kepala sekolah.
“ Tu-tunggu! Ini lantai 3!” bentak Shiki.
“ Hahaha.. Kalian takut?! Aku Black Shadow bak bayangan ilusi, sampai jumpa!” Ia terjun keluar jendela.
“ Huaaaaaaaaaaaaaaaaa…………………”
“ Headmaster!!!!!!!!!!!!!!” dengan spontan Shiki menangkap kepala sekolah.
“ Shiki!!!!!” Thady dan George segera membantu Shiki.

.
.
.

“ Fuahhh…” hela Shiki.
“ Terimakasih anak-anak, kalau tidak ada kalian,”
“ Sudahlah pak, daripada itu, hah… hah..” hela George.
“ Kenapa bapak bisa diincar Black Shadow??” sambung Thady.
“ Entahlah, sepertinya karena ini,” Headmaster menunjukkan sebuah surat penjualan tanah.
“ Heh?! Bapak ingin menjual sekolah ini?!” kejut Shiki.
“ Tidak, tetapi ada yang memaksa saya,”
“ Kita harus pecahkan kasus ini,” sahut George.

.
.
.

“ Sepertinya saya tidak mengikuti prosedur klub kalian ya,”
“ Huh?”
“ Biasanya kan harus mengirim surat dahulu,”
“ Sudahlah, untuk saat ini tidak penting!” sahut George.

Mereka sudah mendapat petunjuk yang sangat berguna. Setelah itu, mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar.

Cahaya matahari mulai memasuki ruangan klub UIPMC. Terlihat mereka sudah sangat bersemangat untuk menemukan Alicia dan Black Shadow.



Akankah mereka dapat memecahkan kasus ini?



- To be continue –




Salam “ Author”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar