BAGIAN
TUJUH
-Andaikan Waktu bisa berputar kembali-
Normal PoV
“ Yang benar??” heran yang lainnya.
“ Ya, ayo kita kunjungi pelakunya.”
Di sebuah rumah
yang sepi dan sunyi. Rumah tua tempat terjadinya sebuah insiden. Rumah yang
sudah di tinggalkan pemiliknya sejak 100 tahun.
NGIIEEETTT…
“ . . . . degh!”
“ Pak Vincent? Sedang apa disini?” heran Linguene.
“ A-ano, saya..”
“ Sedang mencari ini kan?” Ucap George sambil menunjukan sebuah botol kaca.
“ Darimana kamu mendapatkan itu?”
“ Polisi yang menemukannya dan saya meminjamnya, atas saran darinya.”
“ Sedang mencari ini kan?” Ucap George sambil menunjukan sebuah botol kaca.
“ Darimana kamu mendapatkan itu?”
“ Polisi yang menemukannya dan saya meminjamnya, atas saran darinya.”
“ Ehm. Nahhhh… Semua sudah berkumpul, saya
akan menjelaskannya.”
sahut Thady.
“ Pertama, saya mulai menyadari setelah
melihat rumah anda. Anda bilang rumah itu sudah berumur lebih dari 100 tahun,
tetapi struktur bangunanya terlihat baru beberapa tahun. Memang, mungkin saja
bangunan itu sudah di renovasi dan teori saya bisa saja salah.”
“ Kedua, gundukan tanah di belakang rumah
anda. Karena tidak ada gempa dan struktur tanah disana stabil, tidak mungkin
tanah disana bisa terbuka dengan sendirinya. Anda juga pernah bilang tidak
memiliki cangkul. Lalu tulang-tulang itu tidak tersusun dan malah teracak-acak.
Sedangkan di rumah wanita yang pernah menjadi teman kecil anda, yaitu di rumah
ini. Ada sebuah gundukan yang lumayan besar di belakang halaman juga. Dan
sebuah cangkul yang terdapat sidik jari pelaku yang sama. Itu yang membuat saya curiga kalau sebenarnya
tulang-tulang ini, dipindahkan.”
“ Lalu, botol kaca ini. Berisi ketikan hasil
printout computer. Aneh, di jaman Edo belum ada yang namanya computer. Tidak
mungkin kan? Kemudian ada sidik jarinya. Pelaku ini sangatlah ceroboh. Ia
meninggalkan sidik jarinya di botol ini.”
“ Menurut analisis saya, dari hasil
petunjuk-petunjuk yang ada disini adalah sebenarnya rumah dari Jaman Edo itu
menunjuk pada rumah ini, benar kan, Pak Vincent, pelaku dari kasus ini??”
“ APA?! PAK VINCENT??” kaget mereka kecuali Thady dan George.
“ Ya, gua juga sudah tahu itu,” gengsi George.
“ Bolehkah saya jelaskan semuanya?” tanya Thady pada Pak Vincent.
“ Baiklah, silahkan..”
“ Bolehkah saya jelaskan semuanya?” tanya Thady pada Pak Vincent.
“ Baiklah, silahkan..”
“ Hehh?! Pak Vincent…” Alicia merendah.
“ Baik, saya lanjutkan. Anda memanggil kami
untuk membuat alibi. Soal kutukan itu semuanya hanya karangan anda semata. Anda
membuat semua ini demi rumah yang sudah berumur 100 tahun itu. Anda….
Menginginkan rumah itu.”
“ Ya, saya memang menginginkan rumah tersebut.
Tapi wanita tua itu tidak mau memberikannya pada saya.”
“ Jadi, anda mengakui kesalahan anda??” Danny sampai tercengang pertanda tidak
percaya.
“ Ya,”
“ Kenapa bapak menginginkan rumah itu sampai
membunuh sahabat anda sendiri?!”
shock Karen.
“ Boleh saya jelaskan bagian itu juga?” tanya Thady dengan hormat.
“ Anda mengetahuinya juga? Baiklah..
silahkan.”
“ Saya mempunyai analisis seperti ini juga ada
dasarnya. Pelaku menginginkan rumah ini karena ada rumor soal kutukan
tersebut.”
“ Kutukan?!” kaget yang lain.
“ Ya, kutukan peninggalan dari Honda
bersaudara. Rumah yang dibeli dengan hasil jeripayah mereka sendiri.”
“ Kalau begitu apa maksudnya kutukan itu?” heran Steven.
“ Kutukan… Sebenarnya bukan kutukan, lebih
tepatnya kesalahpahaman. Cerita itu sudah lama. Tidak tertulis tetapi
diceritakan dari mulut ke mulut. Dari nenek ke cucunya. Maka dari itu, rumor
tentang rumah ini masih bertahan sampai sekarang.”
“ Hebat sekali kekuatan rumor itu ya?”
“ Ya, sangat menakutkan,”
“ Begitukah?” George sambil membalikkan badannya kearah
lain.
“ Sebenarnya mereka membuat cerita itu agar
generasi yang berikutnya tidak masuk kedalam rumah ini, untuk melindungi
sesuatu.”
“ Apa itu?? Gua gak tahu tuh.” kaget George.
“ Kan aku sudah bilang, aku akan menjelaskan
analisisku. Baik, kulanjutkan. Sama seperti yang di incar pelaku. Rumah
peninggalan Honda-san bersaudara. Harta yang mereka simpan dari orang tuanya.
Itulah yang diincar si pelaku. Apakah benar, Pak Vincent?? Ah, atau lebih
tepatnya Vincento Honda-san?”
“ APA?!” shock semua.
“ Itu benar,”
“ Mungkin anda saudaranya, atau keluarganya,”
“ Ya, saya keturunan adik ketiga mereka. Reo
Honda. Seharusnya mereka ada 3 bersaudara. Tetapi Ia dipisahkan karena
kakak-kakaknya diangkat oleh sebuah keluarga. Keluarga kejam itu.” ucap Pak Vincent tersenyum pahit.
“ Mau saya tunjukkan,” sahut Thady.
“ Apa?” heran Pak Vincent.
“ Harta yang anda cari sampai mengorbankan
sahabat anda sendiri,”
“ ?!”
Thady berjalan ke
lantai dasar. Disana terdapat sebuah ruangan yang sudah lama sekali tidak
terbuka. Sebuah ruang yang penuh dengan buku-buku tua. Penuh debu dan usang.
Disana terdapat sebuah kotak berwarna emas tertutup rapat. Thady pun membuka
kotak tersebut. Berisi tumpukan surat-surat yang sudah usang termakan waktu.
“ Inikan yang bapak cari selama ini?
Peninggalan dari kakek buyut anda? Kotak emas ini dan surat tempat dimana harta
yang sesungguhnya berada. Benarkah?”
“ Bukan.”
“ . . . . . .” #duenggg! Thady terpuruk mode on.
“ Bukan suratnya tapi hartanya,”
“ Anda masih belum mengerti arti kutukan itu?” George dengan nada agak kesal.
“ ?!”
“ Sebenarnya, anda sudah terkena kutukan itu.
Tetapi anda tidak menyadarinya.”
“ Apa maksudmu?”
“ Menginginkan harta yang tak dapat dibawa
mati dengan mengorbankan nyawa seseorang, apakah itu tidak bisa disebut
kutukan?!” geram George.
(c) Tasutan 2013 -Georgeus Stern & Alicia Yumezawa
“ Sa-sabar George, kumohon.” Alicia tanpa berpikir langsung memeluk
George. George hanya bisa turut terdiam sambil mengepalkan tangannya. Alicia
sudah berkaca-kaca menahan tangisnya. Yang lain hanya bisa terdiam menahan
sakit.
Karen pun juga
tidak bisa menahan sakit di hatinya.
“ Ugh! Kenapa?! Kenapa anda bisa berbuat
seperti itu?! Aku gak terima! Ukh! Kenapa bapak tidak berpikir saat melakukan
itu?! Banyak orang yang akan menjauhi bapak jikalau tahu akan hal ini! Apa
bapak tidak pernah merasakan rasanya kehilangan orang yang bapak sayangi?!
Hiks.. Huangggg….”
Key dengan segera
memeluknya.
(c) Tasutan 2013 -Ichinose Karen & Keizura Takumu
“ Ichinose! Tenanglah! Tenangkan hatimu.
Menangislah. Keluarkan semua emosimu.”
Semua hanya bisa
terdiam. Tak kuasa menahan amarah dan sakit di dada.
“ Hmmm… Jadi, apakah anda akan membawaku ke
polisi, detektif Thady?”
sahut Pak Vincent dengan senyum pahit di wajahnya.
“ Tidak,”
“ Ke-kenapa?! Bukankah anda sudah tahu
semuanya,”
“ Ya, memang saya sudah punya semua bukti yang
menunjuk pada anda. Mungkin saja sebentar lagi polisi akan mengetahui bahwa
anda pelakunya, tetapi saya tidak cukup kuat,”
“ Tidak cukup kuat apa maksudmu?”
“ Sama seperti Rikudo Honda-san yang membunuh
dirinya sendiri karena telah membunuh orang tua angkatnya, legenda akan
terulang kembali, Surat yang sesungguhnya sebenarnya ada disini,”
Rumah
ini adalah milik semua orang-orang yanng tidak memiliki dendam dan amarah.
Kuserahkan padamu, orang yang akan menempati tempat ini selanjutnya. Jikalau
kau melanggar, kutukan akan menghampiri kau dan keturunanmu yang singgah di
rumah ini. Kau hanya boleh menggunakan rumah ini untuk orang-orang yang
melayang tanpa arah.
Jika
tidak . . .
Matahari
ada di sebelah barat. Arwah-arwah akan bangkit kembali dari dalam tanah.
Menerkammu dan kau akan mati.
“ Sebenarnya surat ini memang tidak jelas dan
dianggap celotehan semata. Sebenarnya surat ini mempunyai sebuah arti. Rumah
ini milik orang yang tidak memiliki dendam dan amarah, rumah yang damai dan
tenang penuh kesejahteraan. Untuk orang melayang tanpa arah, untuk orang yang
tidak punya tempat tinggal. Jika tidak, akan terkena kutukan, sama seperti
keadaan kita saat ini. Yang dengan penuh hawa nafsu menginginkan harta.
Disebelah barat, maksudnya tempat harta itu tersimpan. Di halaman belakang
sebelah barat. Jika dibuka yang pertama kali terlihat adalah… Tulang-belulang
manusia.”
“ Lalu maksud dari menerkammu dan kau akan
mati?” tanya Linguene.
“ Menerkammu, mungkin maksudnya wanita itu
mengetahui niat Pak Vincent dan ikut mencarinya.”
“ Ya, dia ingin ikut mencari harta dengan
saya. Dia sangat antusias dengan harta itu. Sampai dia berkata; Harta itu semua
akan menjadi milikku karena ini rumahku! Uwahahaha.. Akan kubuat rumah yang
mewah, uang yang berlimpah, perhiasan berkilau. Dan rumah bobrok ini akan saya
jual. Ahahahah..”
“ Kejamnya…” sahut Michi.
“ Ya, dia ingin menghancurkan rumah leluhur
saya, dan menggantinya dengan yang lebih modern.”
“ Tidak berperasaan!” sahut Misha kesal.
“ Dari dulu sifatnya memang seperti itu,”
“ Tetapi legenda sudah terulang kembali.
Mengerikan…” kata
Harmony.
“ Ta-tapi anda telah menyadarkan kami,” sahut Alicia.
“ ??”
“ Anda menyadarkan kami betapa pentingnya
hidup dan persahabatan,”
“ Ya, saya juga memikirkan hal yang sama,
walaupun sering bertengkar, jauh di dalam lubuk hati saya tidak pernah
terlintas untuk membunuh mereka. Malah ingin melindunginya. Karena mungkin
teman seperti mereka tidak akan saya temukan lagi di hari lain. Maka saya akan
menjaga mereka baik-baik,”
sahut George.
“ . . . . Saya mengerti.” Tiba-tiba saja Pak Vincent mengambil sebuah
benda tajam dan mengarahkannya ke jantungnya. Misha langsung bertindak.
“ JANGAAANNNN!”
JLEB..
Tangan Misha
berdarah menahan alunan pisau tersebut. Danny yang terkejut spontan berteriak.
“ Mishaaaaa!!!!”
“ Ukh.”
“ Kenapa? Kenapa anda menahan saya?” sahut Pak Vincent.
“ Apa bapak masih tidak mengerti! Insiden kali
ini memberikan banyak pelajaran untuk saya, agar saya menghargai sebuah
kehidupan. Hidup tidak akan datang kedua kalinya. Teman kecil anda, menjadi
korban, untuk menjelaskan pengertian ini. ‘Sebuah kehidupan tidak bisa dibeli
dengan harta!’ Buat apa anda harus membunuh untuk yang kedua kalinya?! ” sahut Misha.
“ Saya hanya membunuh diri sendiri buka orang
lain,”
“ I-itu sama saja! Mau punya sendiri atau
orang lain, sama saja sudah menghilangkan sebuah kehidupan!” timpal Michi.
“ Anda, tidak terbunuh saat ini seperti
Honda-san karena anda mengundang kami dalam Legenda anda. Rikuto-san mungkin
juga menyesal membunuh dirinya sendiri. Maka Ia melindungi anda, melalui kami,
tetaplah hidup, Pak Vincent, buatlah banyak kedamaian di dunia ini.” Sahut Thady.
Pak Vincent hanya
bisa menangisi perbuatannya. Dia telah melupakan hal terpenting dalam hidupnya.
‘ Andaikan waktu bisa terulang kembali,’ batinnya.
“ Terimakasih, University English Physicology
and Mystical Community,”
Salam
Author
Tidak ada komentar:
Posting Komentar