Kamis, 01 Agustus 2013

- Story 2: Kasus Pembunuhan di Rumah Setan Kecil Part 7-


BAGIAN TUJUH

-Andaikan Waktu bisa berputar kembali-


Normal PoV


“ Yang benar??” heran yang lainnya.
“ Ya, ayo kita kunjungi pelakunya.”


Di sebuah rumah yang sepi dan sunyi. Rumah tua tempat terjadinya sebuah insiden. Rumah yang sudah di tinggalkan pemiliknya sejak 100 tahun.

NGIIEEETTT…

“ . . . . degh!”
“ Pak Vincent? Sedang apa disini?” heran Linguene.
“ A-ano, saya..”
“ Sedang mencari ini kan?” Ucap George sambil menunjukan sebuah botol kaca.
“ Darimana kamu mendapatkan itu?”
“ Polisi yang menemukannya dan saya meminjamnya, atas saran darinya.”
“ Ehm. Nahhhh… Semua sudah berkumpul, saya akan menjelaskannya.” sahut Thady.

“ Pertama, saya mulai menyadari setelah melihat rumah anda. Anda bilang rumah itu sudah berumur lebih dari 100 tahun, tetapi struktur bangunanya terlihat baru beberapa tahun. Memang, mungkin saja bangunan itu sudah di renovasi dan teori saya bisa saja salah.”

“ Kedua, gundukan tanah di belakang rumah anda. Karena tidak ada gempa dan struktur tanah disana stabil, tidak mungkin tanah disana bisa terbuka dengan sendirinya. Anda juga pernah bilang tidak memiliki cangkul. Lalu tulang-tulang itu tidak tersusun dan malah teracak-acak. Sedangkan di rumah wanita yang pernah menjadi teman kecil anda, yaitu di rumah ini. Ada sebuah gundukan yang lumayan besar di belakang halaman juga. Dan sebuah cangkul yang terdapat sidik jari pelaku yang sama.  Itu yang membuat saya curiga kalau sebenarnya tulang-tulang ini, dipindahkan.”

“ Lalu, botol kaca ini. Berisi ketikan hasil printout computer. Aneh, di jaman Edo belum ada yang namanya computer. Tidak mungkin kan? Kemudian ada sidik jarinya. Pelaku ini sangatlah ceroboh. Ia meninggalkan sidik jarinya di botol ini.”

“ Menurut analisis saya, dari hasil petunjuk-petunjuk yang ada disini adalah sebenarnya rumah dari Jaman Edo itu menunjuk pada rumah ini, benar kan, Pak Vincent, pelaku dari kasus ini??”

“ APA?! PAK VINCENT??” kaget mereka kecuali Thady dan George.
“ Ya, gua juga sudah tahu itu,” gengsi George.
“ Bolehkah saya jelaskan semuanya?” tanya Thady pada Pak Vincent.
“ Baiklah, silahkan..”
“ Hehh?! Pak Vincent…” Alicia merendah.

“ Baik, saya lanjutkan. Anda memanggil kami untuk membuat alibi. Soal kutukan itu semuanya hanya karangan anda semata. Anda membuat semua ini demi rumah yang sudah berumur 100 tahun itu. Anda…. Menginginkan rumah itu.”

“ Ya, saya memang menginginkan rumah tersebut. Tapi wanita tua itu tidak mau memberikannya pada saya.”

“ Jadi, anda mengakui kesalahan anda??” Danny sampai tercengang pertanda tidak percaya.
“ Ya,”
“ Kenapa bapak menginginkan rumah itu sampai membunuh sahabat anda sendiri?!” shock Karen.
“ Boleh saya jelaskan bagian itu juga?” tanya Thady dengan hormat.
“ Anda mengetahuinya juga? Baiklah.. silahkan.”

“ Saya mempunyai analisis seperti ini juga ada dasarnya. Pelaku menginginkan rumah ini karena ada rumor soal kutukan tersebut.”

“ Kutukan?!” kaget yang lain.

“ Ya, kutukan peninggalan dari Honda bersaudara. Rumah yang dibeli dengan hasil jeripayah mereka sendiri.”

“ Kalau begitu apa maksudnya kutukan itu?” heran Steven.

“ Kutukan… Sebenarnya bukan kutukan, lebih tepatnya kesalahpahaman. Cerita itu sudah lama. Tidak tertulis tetapi diceritakan dari mulut ke mulut. Dari nenek ke cucunya. Maka dari itu, rumor tentang rumah ini masih bertahan sampai sekarang.”

“ Hebat sekali kekuatan rumor itu ya?”
“ Ya, sangat menakutkan,”
“ Begitukah?” George sambil membalikkan badannya kearah lain.

“ Sebenarnya mereka membuat cerita itu agar generasi yang berikutnya tidak masuk kedalam rumah ini, untuk melindungi sesuatu.”

“ Apa itu?? Gua gak tahu tuh.” kaget George.

“ Kan aku sudah bilang, aku akan menjelaskan analisisku. Baik, kulanjutkan. Sama seperti yang di incar pelaku. Rumah peninggalan Honda-san bersaudara. Harta yang mereka simpan dari orang tuanya. Itulah yang diincar si pelaku. Apakah benar, Pak Vincent?? Ah, atau lebih tepatnya Vincento Honda-san?”

“ APA?!” shock semua.
“ Itu benar,”
“ Mungkin anda saudaranya, atau keluarganya,”

“ Ya, saya keturunan adik ketiga mereka. Reo Honda. Seharusnya mereka ada 3 bersaudara. Tetapi Ia dipisahkan karena kakak-kakaknya diangkat oleh sebuah keluarga. Keluarga kejam itu.” ucap Pak Vincent tersenyum pahit.

“ Mau saya tunjukkan,” sahut Thady.
“ Apa?” heran Pak Vincent.
“ Harta yang anda cari sampai mengorbankan sahabat anda sendiri,”
“ ?!”


Thady berjalan ke lantai dasar. Disana terdapat sebuah ruangan yang sudah lama sekali tidak terbuka. Sebuah ruang yang penuh dengan buku-buku tua. Penuh debu dan usang. Disana terdapat sebuah kotak berwarna emas tertutup rapat. Thady pun membuka kotak tersebut. Berisi tumpukan surat-surat yang sudah usang termakan waktu.

“ Inikan yang bapak cari selama ini? Peninggalan dari kakek buyut anda? Kotak emas ini dan surat tempat dimana harta yang sesungguhnya berada. Benarkah?”
“ Bukan.”
“ . . . . . .” #duenggg! Thady terpuruk mode on.
“ Bukan suratnya tapi hartanya,”
“ Anda masih belum mengerti arti kutukan itu?” George dengan nada agak kesal.
“ ?!”
“ Sebenarnya, anda sudah terkena kutukan itu. Tetapi anda tidak menyadarinya.”
“ Apa maksudmu?”

“ Menginginkan harta yang tak dapat dibawa mati dengan mengorbankan nyawa seseorang, apakah itu tidak bisa disebut kutukan?!” geram George.

(c) Tasutan 2013 -Georgeus Stern & Alicia Yumezawa

“ Sa-sabar George, kumohon.” Alicia tanpa berpikir langsung memeluk George. George hanya bisa turut terdiam sambil mengepalkan tangannya. Alicia sudah berkaca-kaca menahan tangisnya. Yang lain hanya bisa terdiam menahan sakit.


Karen pun juga tidak bisa menahan sakit di hatinya.

“ Ugh! Kenapa?! Kenapa anda bisa berbuat seperti itu?! Aku gak terima! Ukh! Kenapa bapak tidak berpikir saat melakukan itu?! Banyak orang yang akan menjauhi bapak jikalau tahu akan hal ini! Apa bapak tidak pernah merasakan rasanya kehilangan orang yang bapak sayangi?! Hiks.. Huangggg….”

Key dengan segera memeluknya.

(c) Tasutan 2013 -Ichinose Karen & Keizura Takumu


“ Ichinose! Tenanglah! Tenangkan hatimu. Menangislah. Keluarkan semua emosimu.”
Semua hanya bisa terdiam. Tak kuasa menahan amarah dan sakit di dada.

“ Hmmm… Jadi, apakah anda akan membawaku ke polisi, detektif Thady?” sahut Pak Vincent dengan senyum pahit di wajahnya.

“ Tidak,”
“ Ke-kenapa?! Bukankah anda sudah tahu semuanya,”

“ Ya, memang saya sudah punya semua bukti yang menunjuk pada anda. Mungkin saja sebentar lagi polisi akan mengetahui bahwa anda pelakunya, tetapi saya tidak cukup kuat,”

“ Tidak cukup kuat apa maksudmu?”

“ Sama seperti Rikudo Honda-san yang membunuh dirinya sendiri karena telah membunuh orang tua angkatnya, legenda akan terulang kembali, Surat yang sesungguhnya sebenarnya ada disini,”


Rumah ini adalah milik semua orang-orang yanng tidak memiliki dendam dan amarah. Kuserahkan padamu, orang yang akan menempati tempat ini selanjutnya. Jikalau kau melanggar, kutukan akan menghampiri kau dan keturunanmu yang singgah di rumah ini. Kau hanya boleh menggunakan rumah ini untuk orang-orang yang melayang tanpa arah. 
 Jika tidak . . .
Matahari ada di sebelah barat. Arwah-arwah akan bangkit kembali dari dalam tanah. Menerkammu dan kau akan mati.


“ Sebenarnya surat ini memang tidak jelas dan dianggap celotehan semata. Sebenarnya surat ini mempunyai sebuah arti. Rumah ini milik orang yang tidak memiliki dendam dan amarah, rumah yang damai dan tenang penuh kesejahteraan. Untuk orang melayang tanpa arah, untuk orang yang tidak punya tempat tinggal. Jika tidak, akan terkena kutukan, sama seperti keadaan kita saat ini. Yang dengan penuh hawa nafsu menginginkan harta. Disebelah barat, maksudnya tempat harta itu tersimpan. Di halaman belakang sebelah barat. Jika dibuka yang pertama kali terlihat adalah… Tulang-belulang manusia.”

“ Lalu maksud dari menerkammu dan kau akan mati?” tanya Linguene.
“ Menerkammu, mungkin maksudnya wanita itu mengetahui niat Pak Vincent dan ikut mencarinya.”

“ Ya, dia ingin ikut mencari harta dengan saya. Dia sangat antusias dengan harta itu. Sampai dia berkata; Harta itu semua akan menjadi milikku karena ini rumahku! Uwahahaha.. Akan kubuat rumah yang mewah, uang yang berlimpah, perhiasan berkilau. Dan rumah bobrok ini akan saya jual. Ahahahah..”

“ Kejamnya…” sahut Michi.
“ Ya, dia ingin menghancurkan rumah leluhur saya, dan menggantinya dengan yang lebih modern.”
“ Tidak berperasaan!” sahut Misha kesal.
“ Dari dulu sifatnya memang seperti itu,”
“ Tetapi legenda sudah terulang kembali. Mengerikan…” kata Harmony.
“ Ta-tapi anda telah menyadarkan kami,” sahut Alicia.
“ ??”
“ Anda menyadarkan kami betapa pentingnya hidup dan persahabatan,”

“ Ya, saya juga memikirkan hal yang sama, walaupun sering bertengkar, jauh di dalam lubuk hati saya tidak pernah terlintas untuk membunuh mereka. Malah ingin melindunginya. Karena mungkin teman seperti mereka tidak akan saya temukan lagi di hari lain. Maka saya akan menjaga mereka baik-baik,” sahut George.

“ . . . . Saya mengerti.” Tiba-tiba saja Pak Vincent mengambil sebuah benda tajam dan mengarahkannya ke jantungnya. Misha langsung bertindak.

“ JANGAAANNNN!”

JLEB..


Tangan Misha berdarah menahan alunan pisau tersebut. Danny yang terkejut spontan berteriak.

“ Mishaaaaa!!!!”
“ Ukh.”
“ Kenapa? Kenapa anda menahan saya?” sahut Pak Vincent.

“ Apa bapak masih tidak mengerti! Insiden kali ini memberikan banyak pelajaran untuk saya, agar saya menghargai sebuah kehidupan. Hidup tidak akan datang kedua kalinya. Teman kecil anda, menjadi korban, untuk menjelaskan pengertian ini. ‘Sebuah kehidupan tidak bisa dibeli dengan harta!’ Buat apa anda harus membunuh untuk yang kedua kalinya?! ” sahut Misha.

“ Saya hanya membunuh diri sendiri buka orang lain,”

“ I-itu sama saja! Mau punya sendiri atau orang lain, sama saja sudah menghilangkan sebuah kehidupan!” timpal Michi.

“ Anda, tidak terbunuh saat ini seperti Honda-san karena anda mengundang kami dalam Legenda anda. Rikuto-san mungkin juga menyesal membunuh dirinya sendiri. Maka Ia melindungi anda, melalui kami, tetaplah hidup, Pak Vincent, buatlah banyak kedamaian di dunia ini.” Sahut Thady.


Pak Vincent hanya bisa menangisi perbuatannya. Dia telah melupakan hal terpenting dalam hidupnya.

‘ Andaikan waktu bisa terulang kembali,’ batinnya.


“ Terimakasih, University English Physicology and Mystical Community,”



Salam 



Author

Tidak ada komentar:

Posting Komentar