Kamis, 01 Agustus 2013

- Story 2: Kasus Pembunuhan di Rumah Setan Kecil Part 6 -


BAGIAN ENAM

- Akan Ku Perbaiki Kesalahanku, Dan Misteri Mulai Tersusun bak Puzzle-


Normal PoV

“ Isinya apa??” Tanya Danny.
“ Ehm…”


Rumah ini adalah milik semua orang-orang yanng tidak memiliki dendam dan amarah. Kuserahkan padamu, orang yang akan menempati tempat ini selanjutnya. Jikalau kau melanggar, kutukan akan menghampiri kau dan keturunanmu yang singgah di rumah ini. Kau hanya boleh menggunakan rumah ini untuk orang-orang yang melayang tanpa arah. 
 Jika tidak . . .
Matahari ada di sebelah barat. Arwah-arwah akan bangkit kembali dari dalam tanah. Menerkammu dan kau akan mati.

“ Ahhh,”
“ Kenapa George??”
Tanya Alicia.
“ Kertas ini aneh.”
“ Kok bisa?? Kan kertas ini kita temukan di tumpukan tulang belulang.” Jelas Steve.
“ Tapi jelas-jelas tulisan ini bukan dari jaman baheula*.” Jelas Thady.
                 * jaman baheula: jaman dahulu.
“ Maksudmu???” heran Steve.
“ Ah, ini kan hasil computer!” teriak Key.
“ That’s right,” gaya Thady.


                    BLETAK!!

“ Adaw!” teriak Thady.
“ Makanya jangan gaya-gayaan,” bête George.
“ Sudah, sudah.. jangan berkelahi!” bentak Alicia.
“ Tokoro de, petunjuk apa saja yang udah kita temuin?” Tanya Thady.
“ Satu, kertas ini,” sahut Key.
“ Dan sepertinya kita mendapat misteri baru lagi,” jelas George.
“ ??” heran semua.
“ Matinya wanita di jalan xxx, coba tebak, kenapa harus dia?? Kenapa harus dia yang mati?” Tanya Thady.
“ Karena kebetulan?” sahut Linguene.
“ Salah,”
“ Lalu kenapa??” heran Harmony.
“ Aku belum tahu, tapi aku punya petunjuk.” Sahut George.


Mereka pergi ke jalan xxx, tempat dimana wanita itu meninggal. Disana terlihat beberapa polisi yang masih menyelidiki kasus tersebut.

“ Pak, boleh kami bertanya??” Tanya George mantab.
“ Anak kecil dilarang main-main disini, tempat ini berbahaya, sebaiknya kalian pulang saja.” Sahut salah satu polisi itu.
“ Grr…….” Geram George.


(c) Tasutan 2013 -Thady Kurokawa & Georgeus Stern-

“ Saya Thady Kurokawa, seorang DETEKTIF. Kami diminta oleh klien saya untuk menyelidiki sebuah kasus dan saya pikir insiden ini berhubungan dengan kasus yang sedang saya urus.” Jelas Thady dengan lantangnya.
“ Main detektif-detektifannya jangan disini ya, dek. Kalian hanya akan mengganggu polisi yang sedang bertugas.” Ujar teman polisi tersebut.

Akhirnya mereka pun pergi ke taman di dekat rumah insiden tersebut.

“ Sial tuh polisi, ngegangguin orang lagi kerja aja,” keluh George.
“ Sa-sabar, George.” Ujar Alicia.
“ Tuh orang pingin aku cincang tau gak!” geram Thady.
‘ Hiee, tumben Thady lebih seram dari George.’ pikir mereka.
“ Ja-jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan??” tanya Danny.

‘ . . . . . . . . ‘ speechless semuanya.

Sedangkan itu Thady,

“ Psstt.. Key-chan, Key-chan,” bisik Thady.
“ Hileeyyy! A-apaan sih??” kaget Key.
“ Boleh gak aku minta tolong sama kamu??” #puppy eyes Thady mode on!#
“ Me-menjijikan ah! --; mau apa??”

Mereka pun merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan yang lain. Mereka segera kembali ke rumah Pak Vincent. Setelah rencana Keizura (yang dipelopori oleh Thady) selesai. Akhirnya..

“ Semuanyaaa~ ayo kita ke rumah insiden itu!” teriak Thady.
“ WHAT?!” kaget semua.
“ gimana caranya menembus polisi-polisi itu??” tanya Karen penuh heran.
“ Gua sudah merencanakan cara jitu yang bisa membuat kita masuk kesana dengan mudah.” Jelas Key.
“ Nyehehe..” cengir Thady.

‘ Pasti cara illegal lagi,’ pikir yang lain dengan muka pucat pasi.

“ Pegang ini, masing-masing dapat satu.” Ujar Key sambil memberikan card case kepada semuanya.
“ Apa nih??” heran George.
“ Sudah, bawa, dan berikan pada polisi itu, dijamin kita disembah-sembah oleh mereka, nyehehe…” kata Thady sambil menunjukan ekspresi muka sinisnya.
‘ Tidak salah lagi, pasti cara illegal.’ merinding George.

Mereka segera pergi ke tempat insiden itu. Disana juga banyak polisi-polisi yang sedang bertugas.

“ Kalian lagi,” ujar polisi tersebut.
“ Fufufu.. Kami kembali karena diberi tugas disuruh kemari untuk memeriksa tempat ini,” sinis Thady.
“ Kalau begitu, tunjukan tanda pengenal kalian dan juga surat dari atasan.” sahut polisi tersebut.
“ Iniiii~” kata Thady dengan girangnya.

Sejujurnya polisi-polisi tersebut heran dan bingung tapi tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya kicep melihat bukti-bukti yang kami bawa. Uwahahaa.. #plak!#

Kami pun dipersilahkan masuk ke dalam rumah bekas tempat dibunuhnya seorang wanita teman kecil klien kami. Keliling-keliling rumah yang sudah bernoda darah bukanlah hal yang sedap dipandang. Setelah melihat-lihat, kami pun bertanya pada polisi:


“ Permisi pak, apakah anda tahu apa penyabab Ia meninggal??” tanya George.
“ Hmm.. Setahu saya Ia meninggal karena bunuh diri.” Jelas polisi.
“ Yang bener??” tatap Thady.
“ Kurang tau deh,” sahutnya.
“ Cius miapa??” #alay deh Thady.#
“. . . . . . .” speechless semua.


                      BLETAK!!

“ Adaw….” Jerit Thady.
“ Lagian ada-ada aja lu.” Dingin George.
“ Aku kan cuma bercanda.” Keluh Thady.
“ Jika kalian ingin tahu lebih detailnya mending kalian ke atasan saya. Mereka pasti sudah meminta tim penyelidik untuk memecahkan kasus ini.” Jelas salah satu polisi tersebut.
“ Baiklah, terimakasih.” Ujar George.
“ Dari sini lurus lalu belok kiri ya disana pos saya, oiya, bawa ini juga,” sahut polisi itu sambil memberikan surat permohonan izin.
“ Domo arigatou gozaimasu,” sahut kami sembari menuju kantor polisi cabang Tokyo.


Sesampainya kami disana, kami pun menyerahkan surat permohonan tersebut. Seorang petugas segera mengantar kami kepada atasannya.


“ Hmm.. Jadi kalian meminta saya untuk menunjukan segala sesuatu yang kami ketahui tentang insiden di rumah wanita di jalan xxx itu??” tanya atasan kepolisian yang bernama Pak Yotshizune.
“ Ya, Pak Yotshizune, kami sangat membutuhkan informasi tersebut. Bolehkah?” ujar George.
“ Panggil saja Pak Yotshi. Hmm.. Tetapi untuk apa?” heran Pak Yotshi.
“ Ini untuk riset kami,” jelas George.
“ Oo.. Baiklah, akan saya ambilkan.”


Kemudian Pak Yotshi membawa barang-barang yang mencurigakan dari TKP. Ada pemecah es, tali, dan botol kaca kosong.


“ Pemecah es ini untuk menusuk korban dari depan kan??” ujar Key.
“ Ya benar.” Jawab Pak Yotshi.
“ Botol kaca ini untuk apa??” heran Linguene.
“ Dan tali ini??” sahut Karen.
“ Saya juga tidak tahu. Benda-benda itu sudah ada di sebelah korban saat ia meninggal.” Jelas Pak Yotshi.
“ Apakah semuanya bernoda darah??” tanya George.
“ Tidak semua, hanya botol kaca ini yang tidak terkena darah sedikit pun, tetapi terdapat sebuah sidik jari.” Jelas Pak Yotshi.
“ SIDIK JARI?!”


                       BLETAK!!

“ Adaw…” jerit Thady.
“ Lagian bikin kaget orang aja lu,” singkat George.
“ . . . . . “ speechless Thady.
“ Tokoro de, itu sidik jari siapa??” heran Steve.
“ Saya juga belum menyelidikinya. Saya ingin meminta keterangan dari Pak Vincent, tetapi Ia selalu saja sibuk, jadi…”
“ Hmm.. Boleh saya meminjam botol kaca itu??” Tanya Thady.
“ Tentu saja.. TIDAK BOLEH, BAKA*.. --;”
                *baka: bodoh
“ . . . . . . #krik…..”
“ Tidak.. Tidak.. Aku hanya bercanda. Saya pinjamkan hanya untuk hari ini. Kalau terjadi sesuatu pada botol itu, ku hukum kalian.” #Devil Laugh Pak Yotshi mode on!!#
“ Ba-baiklah..” sahut semua.


Kami pun kembali ke kediaman Pak Vincent dan segera memeriksa botol kaca tersebut.


“ Duh.. Mana mungkin kita bisa dengan cepat menemukan siapa pemilik sidik jari ini,” keluh Danny.
“ Kalau tidak dicoba tidak akan tahu kan?” sahut Misha.
“ Aku punya petunjuk lain,” sahut Thady.
“ Huh?”
“ Sticchi, ambil kan botol kaca yang kita temukan didekat tulang belulang itu dong~” rengek Thady dengan puppy eyes-nya.
“ Grrr… Sejak kapan gua ngebolehin lu manggil gua dengan sebutan seperti itu?!” geram Steve dengan tatapan sinis-nya.
“ Daijobu desu ne, tolong yaaa~ nanti ku traktir,” Thady dengan suara manjanya.
“ HUH?! Awas ya, pokoknya jangan sampai lupa!”
“ Iya-iya,”


Kemudian Steven segera mengambilkan botol yang diminta Thady (dengan terpaksa).


“ Domo~ aku ingin sendirian dulu ya,” sahut Thady.
“ KOK GITU?!” sahut semua.
“ nyehehehe, udah gih sono!”
“ . . . . . .” #krik# speechless semua kecuali Thady dengan tatapan anehnya.


Dan akhirnya mereka hanya terdiam kemudian satu persatu pergi dengan pasrah. #krik#
Sedangkan Thady langsung ke dapur sambil mengambil keripik kentang kesukaannya. Lalu mengunci kamar dan menikmati keripik kentangnya. Hahahah..

KRAUK.. KRAUK…

KRAUK.. KRAUK…

Sedangkan di ruang tamu.

“ . . . . .”
“ Kok jadi diem ya?”
sahut Steven.
“ Entah,” jawab Danny.
“ Jadi?” Tanya Linguene.
“ Jadi.” heran George.
“ Lha??”
“ Ahh!!!!”

“ Ada apa, Alicia?!” heran George.
“ Itu, soal botolnya.”
“ Huh?”

NGEETTTTT….

“ Hegh!” kaget semua.
“ Nyehehehe.. Alice-chan, bisa kesini sebentarr….” Thady dengan suara misteriusnya.
“ . . . . . .” speechless semua.
“ Ehm.. I-iya,” sahut Alicia.
“ Grrr.. KAU MAU APA HAH?!” kesal George.
“ Aku pinjam Alice-chan sebentar,” rajuk Thady.
“ EMANG ALICIA ITU BENDA APA?! POKOKNYA GUA IKUT!” geram George.
“ Bhuuhhh.. Padahal aku ingin berduaan dengan Alice-chan, baiklah.” Ngambek Thady.


Akhirnya Alicia dan George masuk ke dalam kamar. Dan Thady kembali mengunci pintu kamarnya. Setelah beberapa saat kemudian.


“ Ayo kita ke rumah wanita itu lagi! Sekalian mengembalikan botol kaca ini pada Pak Yotshi.” Sahut George tiba-tiba keluar dari kamar.
“ Jadi botol itu gak penting ya?” sahut Karen.
“ Bukan begitu,” jawab Alicia.
“ Pokoknya ayok!” ajak George.

Mereka segera berangkat ke kantor Pak Yotshi.

“ Yotsu-san~ aku minta perpanjangan waktu yaa.” Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Thady.
“ Heh? Sehari tak cukup kah?”
“ TIDAK.”

“ Jangan-jangan, HILANG YA??” #devil laugh Pak Yotshi mode on#
“ Tidak kok~ nih aku bawa.”
“ Hmm.. Baiklah asal kalian menjaganya dengan baik, saya kasih waktu 2 hari lagi.”
Jelas Pak Yotshi.
“ Domo arigatou gozaimasu, Pak Yotsuba!” peluk Thady.
“ NAMA SAYA YOTSHIZUNE! BUKAN YOTSUBA!”


Go to women’s house. Mereka berputar-putar di rumah tersebut. Ada yang ke kamar, ke ruang tamu, kamar mandi, dapur, dan halaman belakang. Disana juga Thady menemukan bekas galian tanah di halaman belakang beserta cangkulnya.


“ Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam~” girang Thady.
‘ Astaga, ini orang masa kecil kurang bahagia ya??’ pikir mereka.
“ Tapi jangan sentuh cangkulnya~ karena ada yang penting di cangkulnya~”
“ Hng? SIDIK JARI!”
kompak mereka.
“ Coba kita cocoknya sidik jarinya, aku ada fotonya.” Sahut Key sambil memunjukan kameranya.
“ Hmm.. SAMA!” kaget mereka.
“ Kok bisa??” heran Steven.
“ Karena..” Senyum Thady cool.
“ Yang menyentuh cangkul ini pelakunya sama,” sambung George cool mode on.
“ Dan kami tahu siapa pelakunya,” Thady dan George bersamaan.



Menurut kalian siapakah pelakunya dan apa motifnya?? Penasaran kan? Ikuti terus UIPMC Club! ya. Ja ne!


Salam


Author

Tidak ada komentar:

Posting Komentar