Kamis, 01 Agustus 2013

- Story 1: The Legend of Devil Hearts of The Last Century Part 3 -


BAGIAN TIGA

-Buku Diary di Perpustakaan Lantai 3-


" Yaelah.. Gua sendiri lagi. Kagak enak banget. Sabar ajj dah gua.. " keluhnya.

Thady berkeliling di dalam istana tersebut. Yang lain ? Mane Gue tau..
Pokoknya yang Ia tahu, berpencar. Cari petunjuk. Selesai.
(#enggak ada niat nih anak..)


" Humm..  Bete tahu. Gua pikir bakal-an ada hal yang menarik gitu. Tahu-tahu enggak ada apa-apa. Mengecewakan nih. " dari tadi Ia terus mengeluh. Di saat Thady sedang mencari, tiba-tiba . . . .

" HOI!
" Huaaa !! Hiatt !!! " Dengan spontan, Thady membanting orang tersebut.
" Woi!! Duh.. Gila.. Sakit tau! " siapa lagi kalau bukan George yang sedang tergeletak di lantai karena tadi habis Thady banting.
" Sorry.. Gua kan gak tahu.. "
" Ishh... Nyut-nyutan nih.. "
" Sorry dah..."

" Ckckck.. Ehh.. " Danny menghampiri.
" Apa-an? " seru George.
" Kagak deh.. "
" Kenapa sih lu? " heran George.
" Enggak... "
" Yo wes lah.." kata George membiarkan.

" Maaf, tuan-tuan.. Saat-nya makan siang, silahkan ke ruang makan. " kata Pak Itto.
" Yang lain-nya gimana?" tanya George.
" Teman-teman anda sudah menunggu di ruang makan. " jelas Pak Itto.
" Baiklah, kita sudahi dulu, nanti kita lanjutkan lagi, "
" Okey.." Danny mengiyakan.
" Hmm..." heranku.
" Kenapa, dy? Ayo..." ajak Danny.
" Ehh.. I-iya.. "  Thady segera menyusul George dan Danny.


Di saat mereka sedang makan, Thady memikirkan sesuatu yang aneh. Yahh.. Mungkin saja itu hanya perasaannya saja. Tetapi Ia merasa tidak enak.

Hari telah menjelang senja, Thady memutuskan untuk beristirahat. Teman-teman yang lain juga merasa kelelahan. Seharian mereka berpencar, tetapi tidak menemukan apa-apa. George sang ketua UIPMC club juga mengerti kondisi mereka. Akhirnya semua setuju untuk beristirahat dan melanjutkan pencarian sampai esok hari. 


Keesokan hari-nya, yaitu tanggal 30 Septerber 20XX. Kami pun melanjutkan pencarian. Yah.. Sama seperti kemarin. Tidak menemukan apa-apa. Mereka berkumpul di ruang tamu untuk membicarakan gerakan apa yang akan kami lakukan setelah ini. Rasanya jalan otak sudah buntu. Tidak ada petunjuk yang mengarah ke peristiwa beberapa abad yang lalu.

" Gimana nih ? " cemas Alicia.
" Gua juga gak tahu. " George yang sudah mulai putus asa.
" Arghh.. Lu jadi ketua gimana sih ?! " bentak Steve menyalahkan George.
" Kenapa jadi nyalahin gua sih.. " George say what.
" Sudahlah.. Jangan bertengkar. Lebih baik kan kita bekerja sama, " sahut Alicia.
" Hoi ! gimana kalau kita bertanya lebih detail tentang peristiwa tragis itu." ujar Danny memberi ide.
" Nanya ke siape ?? " tanya George.
" Tanya Pak Itto lah.." jelas Danny.
" Entahlah.. Gua gak yakin.." George dengan suara pelan.
" Bagaimana kalau kita cek yang di lantai tiga ? " kata Key.
" Oiya ya.. Selama ini kita hanya cek di lantai dua. Good idea, Key! " sahut George.
" Haha.. Sok pake Bahasa Inggris lu.." canda Steve.
" Huh! " kesal George.
" Mending kita coba sekarang yuk.. Aku juga penasaran di lantai tiga itu ada apa." kata Michi.
" Ok deh.. Lho? yang lain pada kemana nih? " heran Alicia.
" Yang lain sedang belajar masak bareng Pak Itto dan Bu Hyaka, " jelas Michi.
" HAH?! Belajar masak?? " kata George, Alicia, Steve, Danny, Key, dan Linguene berbarengan.
" Eh.. Thady kemana ya? " kata Alicia.
" Auu tuh.. Ngilang-nya cepat banget." sahut Steve.
" Ehh.. Parah.. Mungkin saja dia lagi ke dapur lihat kue. " ujar Michi.
" Gue ke dapur ya.. " Linguene sambil berjalan ke dapur.


Sedangkan di dapur,

" Huaa.. Gosong !!!! " panik Misha.
" Enggak kok.. Cepat di balik pancake-nya, " sahut Harmony.
" Duhhh... Coklat-nya belepotan, Mony-chan.." keluh Karen.
" Karen, angkat Icing-nya agak tinggi.." saran Harmony.
" Ba-baik.. " kata Karen sambil mengikuti saran Harmony.
" Wahh.. Para wanita sedang membuat kue buat aku ya.. Thx yaa.." sahut Linguene.
" Idihh.. Siapa lagi yang mau bikinin orang genit kayak lo.." sahut Misha.
" Kok kasar banget sihh.. Cewek cantik tuh gak boleh berkata kasar tau. Gak manis.." ejek Linguene.
" Ikhh.. Biarin ajj, " Misha say what.
" Uwahaha.. Kalian ini lucu dehhh.." tawa Karen.
" Fufu.. Linguene mau coba? " sahut Harmony sambil memberikan pancake buatannya.
" Uwaa.. Boleh.. Thx yaa.." Linguene girang.
" Bagaimana rasanya? " tanya Harmony.
" Pasti enak lahhh.." kata Karen.
" Yoman.. " kata Misha.
" Iya.. Enak banget lho!" kata Linguene.
" Untunglah..." kata Harmony sambil tersenyum.
" Nahh.. Kayak Harmony dong.. Jadi cewek tuh manis kayak dia, " ujar Linguene.
" Hiee?? " wajah Harmony memerah.
" Bhuu.. Kan kita harus punya jati diri sendiri tau! Bwekk, " ucap Misha sambil menjulurkan lidahnya.
" Yuppy.." kata Karen.
" Yoman.. Eh.. Lihat Thady gak? " tanya Linguene.
" Enggak tuh.." kata Misha.
" Waduh.. Tuh anak dari tadi gak keliatan." kata Linguene heran.
" Mungkin sedang menyelidiki sesuatu." sahut Harmony.
" Atau gak dia ketangkap setan kali ya.. Khikhikhikhi.." canda Misha.
" Haha.. Enggak mungkin lahh.." kata Karen sambil tertawa.
" Hahah.. just kidding all." kata Misha.
" Haha.. Kita kedepan yuk, " ajak Harmony.
" Ayok, " kata Linguene.


Sedangkan Thady berada di lantai tiga. Ia penasaran dengan ruangan-ruangan di lantai 3. Di dalam istana ini ada 5 lantai, ditambah dengan loteng. Di lantai 3, Ia menemukan sebuah perpustakaan raksasa. Banyak buku bersejarah disana, dan pastinya ada buku misteri juga, dan Thady menyukainya. Mungkin selama Ia membaca, yang lain pasti sedang kebingungan. Sepertinya Thady sedang kabur nih.. 


Tetapi pencariannya membuahkan hasil. Thady tidak sengaja menemukan sebuah buku diary milik seorang laki-laki bernama Pharos Peterson. Yeah.. Dan Thady yakin, buku ini ada hubungannya dengan peristiwa tragis beberapa abad yang lalu. Maybe yes, maybe no. Just try it..


-To be continue-


Salam " Author”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar