BAGIAN TIGA
-Buku Diary di Perpustakaan Lantai 3-
" Yaelah.. Gua sendiri lagi. Kagak enak banget. Sabar ajj dah gua.. " keluhnya.
Thady berkeliling
di dalam istana tersebut. Yang lain ? Mane Gue tau..
Pokoknya yang Ia tahu, berpencar. Cari
petunjuk. Selesai.
(#enggak ada niat
nih anak..)
" Humm..
Bete tahu. Gua pikir bakal-an ada hal yang menarik gitu.
Tahu-tahu enggak ada apa-apa. Mengecewakan nih. " dari tadi Ia terus
mengeluh. Di saat Thady sedang mencari, tiba-tiba . . . .
" HOI! "
" Huaaa !!
Hiatt !!! " Dengan spontan, Thady membanting orang tersebut.
" Woi!!
Duh.. Gila.. Sakit tau! " siapa lagi kalau bukan George yang sedang
tergeletak di lantai karena tadi habis Thady banting.
" Sorry.. Gua
kan gak tahu.. "
" Ishh... Nyut-nyutan
nih.. "
" Sorry
dah..."
" Ckckck.. Ehh..
" Danny menghampiri.
" Apa-an?
" seru George.
" Kagak
deh.. "
" Kenapa sih
lu? " heran George.
" Enggak...
"
" Yo wes
lah.." kata George membiarkan.
" Maaf, tuan-tuan..
Saat-nya makan siang, silahkan ke ruang makan. " kata Pak Itto.
" Yang
lain-nya gimana?" tanya George.
"
Teman-teman anda sudah menunggu di ruang makan. " jelas Pak Itto.
" Baiklah,
kita sudahi dulu, nanti kita lanjutkan lagi, "
" Okey.."
Danny mengiyakan.
"
Hmm..." heranku.
" Kenapa,
dy? Ayo..." ajak Danny.
" Ehh..
I-iya.. " Thady segera menyusul
George dan Danny.
Di saat mereka
sedang makan, Thady memikirkan sesuatu yang aneh. Yahh.. Mungkin saja itu hanya
perasaannya saja. Tetapi Ia merasa tidak enak.
Hari telah
menjelang senja, Thady memutuskan untuk beristirahat. Teman-teman yang lain
juga merasa kelelahan. Seharian mereka berpencar, tetapi tidak menemukan apa-apa.
George sang ketua UIPMC club juga mengerti kondisi mereka. Akhirnya semua
setuju untuk beristirahat dan melanjutkan pencarian sampai esok hari.
Keesokan
hari-nya, yaitu tanggal 30 Septerber 20XX. Kami pun melanjutkan pencarian. Yah..
Sama seperti kemarin. Tidak menemukan apa-apa. Mereka berkumpul di ruang tamu
untuk membicarakan gerakan apa yang akan kami lakukan setelah ini. Rasanya
jalan otak sudah buntu. Tidak ada petunjuk yang mengarah ke peristiwa beberapa
abad yang lalu.
" Gimana
nih ? " cemas Alicia.
" Gua juga
gak tahu. " George yang sudah mulai putus asa.
" Arghh..
Lu jadi ketua gimana sih ?! " bentak Steve menyalahkan George.
" Kenapa jadi
nyalahin gua sih.. " George say what.
" Sudahlah..
Jangan bertengkar. Lebih baik kan kita bekerja sama, " sahut Alicia.
" Hoi ! gimana
kalau kita bertanya lebih detail tentang peristiwa tragis itu." ujar
Danny memberi ide.
" Nanya ke
siape ?? " tanya George.
" Tanya Pak
Itto lah.." jelas Danny.
" Entahlah..
Gua gak yakin.." George dengan suara pelan.
" Bagaimana
kalau kita cek yang di lantai tiga ? " kata Key.
" Oiya ya..
Selama ini kita hanya cek di lantai dua. Good idea, Key! " sahut George.
" Haha.. Sok
pake Bahasa Inggris lu.." canda Steve.
" Huh!
" kesal George.
" Mending
kita coba sekarang yuk.. Aku juga penasaran di lantai tiga itu ada apa."
kata Michi.
" Ok deh..
Lho? yang lain pada kemana nih? " heran Alicia.
" Yang lain
sedang belajar masak bareng Pak Itto dan Bu Hyaka, " jelas Michi.
" HAH?!
Belajar masak?? " kata George, Alicia, Steve, Danny, Key, dan Linguene
berbarengan.
" Eh.. Thady
kemana ya? " kata Alicia.
" Auu tuh..
Ngilang-nya cepat banget." sahut Steve.
" Ehh..
Parah.. Mungkin saja dia lagi ke dapur lihat kue. " ujar Michi.
" Gue ke
dapur ya.. " Linguene sambil berjalan ke dapur.
Sedangkan di
dapur,
" Huaa..
Gosong !!!! " panik Misha.
" Enggak
kok.. Cepat di balik pancake-nya, " sahut Harmony.
" Duhhh...
Coklat-nya belepotan, Mony-chan.." keluh Karen.
" Karen,
angkat Icing-nya agak tinggi.." saran Harmony.
" Ba-baik..
" kata Karen sambil mengikuti saran Harmony.
" Wahh..
Para wanita sedang membuat kue buat aku
ya.. Thx yaa.." sahut Linguene.
" Idihh..
Siapa lagi yang mau bikinin orang genit kayak lo.." sahut
Misha.
" Kok kasar
banget sihh.. Cewek cantik tuh gak boleh berkata kasar tau. Gak
manis.." ejek Linguene.
" Ikhh..
Biarin ajj, " Misha say what.
" Uwahaha..
Kalian ini lucu dehhh.." tawa Karen.
" Fufu..
Linguene mau coba? " sahut Harmony sambil memberikan pancake buatannya.
" Uwaa..
Boleh.. Thx yaa.." Linguene girang.
" Bagaimana
rasanya? " tanya Harmony.
" Pasti enak
lahhh.." kata Karen.
" Yoman..
" kata Misha.
" Iya.. Enak
banget lho!" kata Linguene.
"
Untunglah..." kata Harmony sambil tersenyum.
" Nahh..
Kayak Harmony dong.. Jadi cewek tuh manis kayak dia, " ujar
Linguene.
" Hiee??
" wajah Harmony memerah.
" Bhuu.. Kan
kita harus punya jati diri sendiri tau! Bwekk, " ucap Misha sambil
menjulurkan lidahnya.
"
Yuppy.." kata Karen.
" Yoman..
Eh.. Lihat Thady gak? " tanya Linguene.
" Enggak
tuh.." kata Misha.
" Waduh.. Tuh
anak dari tadi gak keliatan." kata Linguene heran.
" Mungkin
sedang menyelidiki sesuatu." sahut Harmony.
" Atau gak dia ketangkap setan
kali ya.. Khikhikhikhi.." canda Misha.
" Haha..
Enggak mungkin lahh.." kata Karen sambil tertawa.
" Hahah..
just kidding all." kata Misha.
" Haha..
Kita kedepan yuk, " ajak Harmony.
" Ayok,
" kata Linguene.
Sedangkan Thady
berada di lantai tiga. Ia penasaran dengan ruangan-ruangan di lantai 3. Di
dalam istana ini ada 5 lantai, ditambah dengan loteng. Di lantai 3, Ia
menemukan sebuah perpustakaan raksasa. Banyak buku bersejarah disana, dan
pastinya ada buku misteri juga, dan Thady menyukainya. Mungkin selama Ia
membaca, yang lain pasti sedang kebingungan. Sepertinya Thady sedang kabur nih..
Tetapi
pencariannya membuahkan hasil. Thady tidak sengaja menemukan sebuah buku diary
milik seorang laki-laki bernama Pharos Peterson. Yeah.. Dan Thady yakin,
buku ini ada hubungannya dengan peristiwa tragis beberapa abad yang lalu. Maybe
yes, maybe no. Just try it..
-To be continue-
Salam " Author”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar